Bahaya Bakso yang Mengandung Boraks
Menurut Maringan,Rhodamin B zat warna sintesis yang umumnya digunakan
mewarnai kertas,tekstil atau tinta.Penyalahgunaan zat ini, ditemukan
pada krupuk, terasi, es atau minuman dan panganan jajanan berwarna
merah. Rhodamin B ini,papar dia,bersifat karsinogenik dapat menyebabkan
kanker dan dalam kondisi konsentrasi tinggi menyebabkan kerusakan hati.
Demikian halnya, tutur Maringan, pada boraks yang bersifat septik dan
biasanya digunakan dalam pembuatan deterjen. Penggunaan produk tidak
sesuai peruntukkannya tersebut, ditemukan diantaranya pada mie basah,
bakso, kerupuk dan panganan jajanan.
Maringan menambahkan, untuk penggunaan boraks pada makanan bisa
menyebabkan, mual, nyeri perut bagian atas, diare, mengantuk,
demam,sakit kepala,iritasi saluran pencernaan, hingga kerusakan ginjal.
Akibat mengonsumsi boraks akan muncul tanda-tanda akut seperti muntah,
diare, merah dilendir, konvulsi dan depresi SSP (Susunan Syaraf Pusat).
Gejala dan tanda kronisnya,nafsu makan menurun, gangguan SSP; bingung
dan bodoh, anemia, rambut rontok dan kanker.
”Kebanyakan produk itu bisa dijumpai di pasar tradisional, olehnya
masyarakat diminta berhati-hati dan teliti jika membeli produk pangan.
Harus selalu memperhatikan komposisi kandungan produk itu, sebelum
membelinya, ”tandasnya. Boraks adalah serbuk kristal putih, tidak
berbau, dan larut dalam air.Bahan ini biasa dipakai sebagai pengawet
kayu, antiseptic kayu, dan pengontrol kecoa. Boraks sangat berbahaya
terhadap kesehatan karena diserap melalui usus,kulit yang rusak dan
selaput lendir. Boraks yang merupakan senyawa yang bisa memperbaiki
tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus, misalnya bakso
dan kerupuk.
Kenapa bakso dan kerupuk menggunakan boraks? Jika dicampurkan dengan
bakso, akan memiliki kekenyalan khas yang berbeda dari kekenyalan bakso
yang menggunakan banyak daging. Bakso yang mengandung boraks sangat
renyah dan tahan lama. Sementara kerupuk kalau digoreng akan mengembang
dan empuk, teksturnya bagus dan renyah.
Terpisah, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sulsel Zohra
Andi Baso menyatakan,temuan itu harus segera disosialisasikan ke
masyarakat sampai ke pelosok desa, supaya bisa dijadikan acuan dalam
membeli produk pangan. Dia mengimbau bagi masyarakat yang menemukan
produk tersebut segera menginformasikan ke instansi terkait supaya bisa
dilakukan tindakan.
”Produsen yang memproduksi panganan mengandung bahan berbahaya itu harus
diberikan tindakan tegas agar tidak memproduksi dan mendistribusikan
produknya lebih banyak lagi ke konsumen.
Dan menjadi kewajiban BPOM dan Pemerintah menyebarluaskan
informasi,”harapnya. Yang tidak kalah membahayakan adalah
formalin.Formalin adalah berupa cairan dalam suhu ruangan, tidak
berwarna, bau sangatmenyengat, mudahlarutdalam air dan alkohol. Bahan
ini dipergunakan sebagai desinfektan, cairan pembalsem, pengawet
jaringan, pembasmi serangga dan digunakan di indutri tekstil dan kayu
lapis.
Akibatnya jika digunakan pada pangan dan dikonsumsi oleh manusia akan
menyebabkan mual,muntah, perut perih, diare, sakit kepala, pusing,
gangguan jantung, kerusakan hati, kerusakan saraf, kulit membiru,
hilangnya pandangan,kejang,koma dan kematian.